Auteur ex Machina

Ketimbang dikatakan sebagai sebuah pemikiran yang telah mantap, barangkali esai ini lebih tepat dikategorikan sebagai sebuah penawaran abstraksi pemikiran spekulatif yang sedang dalam proses pengembangan.[1] Tawaran ini dimulai oleh pertanyaan-pertanyaan seputar perkembangan teknologi digital, intelegensia yang ditawarkannya, serta dampaknya pada tubuh-tubuh realitas yang, selain menjadi pembuat dan pengguna dari teknologi tersebut, juga telah menjadi bagian darinya.
Hari ini, ketika teknologi digital semakin berkembang pesat, sirkulasi gambar pada dunia digital pun semakin cepat dengan topik maupun isu yang kian beragam. Dalam kaitanya dengan teknologi gambar bergerak, hari ini, pengalaman imersif menonton gambar bergerak dimungkinkan terjadi dalam ruang paling intim secara individual dan menjadi bagian dari aktivitas keseharian. Sinema yang mulanya hanya bisa ditonton pada ruang gelap di layar besar, kini pun hadir di dalam genggaman dan bisa ditonton di mana pun. Smartphone dan aplikasi-aplikasi bawaannya, yang didukung oleh pengembangan teknologi digital, memungkinkan seseorang menonton, membuat, dan menyebarkan gambar, baik yang diam (still image) maupun bergerak (moving image). Sirkulasi yang cepat dan masif membuat garis batas tentang siapa yang memproduksi, mendistribusi, dan mengonsumsi menjadi buram, begitu pula tentang signifikansi atas pengkaryaan yang amatir maupun yang profesional.
Sebagaimana gambar yang dengan mudah bergerak pada dunia simulasi digital, wacana pun menjadi dengan mudah tersirkulasikan dan menggerakkan tubuh-tubuh realitas. Demonstrasi terhadap mantan Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, terkait klaim penistaan agama yang dipicu oleh sirkulasi sebuah video amatir, menjadi salah satu contoh yang, meskipun problematis, cukup mengindikasikan bagaimana gambar bergerak yang tersirkulasi di dunia digital pada akhirnya berimplikasi pula pada mobilisasi isu di dunia non-digital. Dalam konteks politik antar-bangsa, Revolusi Arab yang teramplifikasi melalui media sosial juga menjadi catatan penting tentang bagaimana sirkulasi di dunia digital terhubung dengan sirkulasi realitas.
Selain narasi-narasi besar tersebut di atas, sirkulasi gambar bergerak di dunia digital pun melibatkan pula langgam bahasa dan gestur yang melekat dengan konteks lokasi di mana dan oleh siapa gambar-gambar tersebut diproduksi. Citraan yang dihasilkan memang sebagian besar masih diproduksi dalam kerangka kesadaran sebagai pengguna, yang belum tentu diintensikan untuk mengkritik atau menjadi tandingan wacana dominan. Sebagian lainnya, di antaranya seperti yang diproduksi dalam program Vlog Kampuang oleh komunitas Gubuak Kopi (Solok, Sumatera Barat) dan dalam proyek “30 Hari Pemenang dalam Bingkai Kamera” oleh Hamdani dari komunitas Pasirputih (Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat), membawa serta aspek eksperimentasi pengkarya dalam artikulasi konteks lokal pada bahasa visualnya serta perihal distribusinya yang menggunakan lini-lini media sosial. Selain keduanya, ialah praktik-pratik tak bernama lainnya yang ragam secara visual dan menampilkan imaji yang ditangkap oleh kamera yang bukan lagi sekadar menjadi mata, namun juga menjadi perpanjangan dari anggota badan. Citra-citra yang diproduksi dan disirkulasikan secara digital semacam ini pun menjadi salah satu bentuk interface dari pengetahuan yang lain, sekaligus menjadi pengetahuan itu sendiri, yang kemunculannya lekat tak hanya dengan perkembangan teknologi perekam, tetapi juga dengan bagasi pengetahuan yang memungkinkan subjek merekam.
Jika auterism atau pengkaryaan saya andaikan sebagai sebuah konsep atau gagasan tentang produksi pengetahuan sehingga pengkarya tak hanya membentuk dan mengarahkan gambar yang representatif namun juga presentasi realitas, maka dalam hal ini, intelegensia teknologi perlu dipandang sebagai elemen yang aktif dan memengaruhi corak produksi gambar, pengetahuan atau karya, baik secara subtil maupun gamblang, dan menggerakkan bukan hanya citraan di dunia digital tetapi juga tubuh-tubuh yang mencitra.
Mulanya pun adalah sebuah karya, teknologi, melalui ulang-aliknya kemudian menghasilkan sebuah perangkat yang memudahkan. Universalisasi metode tentang bagaimana manusia menyikapi masing-masing tantanganlah yang menjadi intelegensia umum[2] yang dilekatkan pada perangkat-perangkat teknologis. Intelegensia, yang sebelumnya hanya termanisfestasi dalam kesadaran manusia, kemudian ditransformasikan ke dalam berbagai perangkat yang mengondisikan kemudahan dan otomatisasi kerja. Pada saat yang bersamaan, sebagai sebuah interface atas suatu intelegensia yang memudahkan dan mengotomatisasikan kerja, perangkat-perangkat ini pun meregulasi operatornya untuk bekerja sesuai dengan mekanisme intelegensia yang telah dibakukan. Gestur, habitus, dan bahkan cara melihat atau merespon, di antaranya, adalah aspek-aspek yang kemudian turut ter-regulasi.
Ketika teknologi multi-fungsi smartphone muncul dan memungkinkan aktivitas merekam dan menonton terjadi di mana saja, orang pun dengan leluasa dapat memproduksi citraan dirinya, lokasinya, dan wacana yang ingin dikemukakannya. Kita pun dapat menonton gambar-gambar bergerak yang diproduksi oleh entah siapa, turut merayakannya dan menyebarkannya kembali. Namun di satu sisi keleluasaan ini bukannya tanpa risiko tentang subjektivitas dan pengetahuan macam apa yang terbentuk dan untuk siapa keduanya terproduksi ketika intelegensi teknologi yang digunakan pun telah sedemikian rupa dibuat sebagai perangkat akumulasi kapital untuk menguntungkan segelintir pihak. Jika kita melihat sinema sebagai sebuah peluang untuk agensi aktivisme dan komunikasi wacana kritis melalui visual, maka persoalan atas sirkulasi wacana yang dimediasi gambar dalam dunia digital dan dapat diakses kapan pun, dimana pun, bahkan di ruang-ruang paling intim, menjadi suatu wacana yang perlu didiskusikan. Aspek kritis atas intelegensia yang telah dilekatkan pada teknologi menjadi intervensi yang diperlukan untuk membuat diversifikasi sekaligus menyiasati regulasi intelegensi teknologis.
Sama halnya dengan sinema yang meletakkan montase sebagai aspek penting dalam menjahit keseluruhan sekuens gambar sebagai sebuah kesatuan filem, apa yang hendak diletakkan dalam bingkai pada gambar bergerak di dunia digital dan bagaimana meletakkannya, juga menjadi sebuah tindakan yang krusial yang tak hanya bisa menjadi estetis tapi juga politis. Jika teknologi sebagai moda utama akumulasi kapital, dan citraan-citraan yang kini tersirkulasi di dunia digital adalah produk dari intelegensia yang melekat pada mekanisme teknologi itu sendiri, maka tubuh yang mencitra beserta pengetahuannya adalah potensi yang memungkinkan diversifikasi produksi atas bahasa citraan tersebut. Bahasa yang menganalkan potensi kritik dan counter atas wacana dominan yang cenderung tidak meletakkan keberpihakan teknologi pada publik.
Dalam hal ini, pengetahuan kolektif yang memuat potensi kritik dan counter atas wacana dominan menjadi penentu atas perimbangan corak produksi citra. Eksperimentasi dititikberatkan, salah satunya, pada kekuatan kolektif untuk menggerakkan gagasan dan pengetahuan tentang penggunaan dan bahkan kolaborasi dengan teknologi yang memungkinkan produksi wacana tandingan yang berpihak pada publik melalui sirkulasi gambar bergerak di dunia digital. Maka, praktik-praktik produksi gambar bergerak yang disirkulasikan di media digital sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas Gubuak Kopi melalui Vlog Kampuang-nya, Hamdani lewat “30 Hari Pemenang dalam Bingkai Kamera”-nya, dan praktik-praktik tak bernama lainnya yang sehari-hari dapat terakses dengan mudah melalui koneksi internet pun menjadi penting untuk diletakkan dalam wacana kritis gambar bergerak hari ini.
Khalayak telah berbondong menjadi warga dunia .net dan tak terkira besarnya data-data citraan yang terunggah pada laci penyimpan data Google, Facebook, Netflix, Youtube, dan sebangsanya. Subjek-subjek mengetuk pagar lahan digital dan masuk untuk menjadi bagian dari pertanian gigantis akan citra dan data, kelak barangkali semua akan berusaha menjadi pengkarya. Teknologi yang membangun panggung bagi gambar bergerak, teknologi pula yang membongkar panggungnya lalu menyorongkan gambar bergerak kembali pada publik. Hari ini, menjadi pekerjaan rumah kita pula sebagai publik untuk tetap melihat dengan kritis tanpa menutup peluang-peluang untuk menyiasati intelegensia teknologi di tengah selebrasi kita atas keleluasan yang (seolah) hadir karena perangkat teknologi.[3]
***
[1] Istilah pada judul ini menjadi bagian dari spekulasi dan interpretasi saya yang masih terus dikembangkan atas pembacaan terhadap fenomena teknologis dan politik pengetahuan serta konsep-konsep seputar Machine dan General Intellect yang telah diwacanakan oleh Marx, Guattari, Deleuze, Virno, dan Harun Farocki.
[2] Mengacu padai istilah General Intellect yang disebutkan dalam buku Grundrisse (1858) karya Karl Marx dan dalam catatan Paulo Virno, “General Intellect” (http://www.generation-online.org/p/fpvirno10.htm), yaitu intelegensia dinamis yang terdiri atas kombinasi berbagai intelegensi sebagai konsep yang hidup dan non-individual yang kemudian dibakukan, untuk digunakan dalam kerangka produksi kapital.
[3] Teks ini dibacakan pada Forum Festival 2017 yang diselenggarakan pada 17 – 18 Agustus 2017 bertempat di auditorium Goethehaus, Goethe-Institut Jakarta . Acara simposium tersebut juga menjadi bagian dari Arkipel Penal Colony – 5th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival yang diselenggarakan pada 18 – 26 Agustus 2018.
Advertisements

Pertolongan Pertama pada Sinema

Jadi, ini adalah sketsa tulisan yang sudah cukup lama ada di buku catatan dan sempat saya unggah ke blog saya yang lain. Waktu saya menulis catatan ini, saya baru saja kembali dari menonton salah satu film yang diputar pada permulaan Arkipel 2016. Tidak banyak yang saya ketahui tentang menulis film, kecuali sebagaimana yang pernah saya lakukan dulu sebagai tugas kuliah dan sebagai kesenangan dalam mengomentari film yang memberi pengalaman spesial.
Tulisan ini pun adalah bagian dari luapan kesenangan usai menonton filem tersebut. Secara bentuk, sebenar-benarnya saya lumayan terkejut dengan dua filem yang saya tonton di Erasmus Huis tanggal 15 Agustus 2016 itu. Jika menilik deskripsi festival filem Arkipel, maka jelaslah bahwa filem ini ialah filem dokumenter dan eksperimental, yang demi Tuhan baru saya kenal lewat festival ini. Awalnya saya gelisah jikalau tidak bisa menikmati filem eksperimental dan tertidur di tengahnya, yang mana sering terjadi ketika bosan dengan sesi listening di ujian Bahasa Inggris dan di tengah kebosanan lainnya. Tetapi kegelisahan itu terbukti keliru. Entah kenapa saya malah terpukau dengan kedua filem itu. Barangkali karena saya terkejut dengan ide jenial pembuat filem yang menyampaikan pesan-pesannya lewat filem semacam itu.
All That is Somehow Useful merupakan sebuah filem pendek buatan sutradara Pim Zwier yang waktu itu ditayangkan. Filem asal Jerman ini dirilis pada tahun 2013 dan tayang dalam format warna hitam-putih. Sekarang ketika saya mengetikkan judul ini pada mesin perambah Google, barulah saya tahu bahwa filem berdurasi 8 menit ini memang filem eksperimental. Tapi saya tidak akan membahas soal genre-nya. Yang justru ingin saya ungkapkan adalah bagaimana komunikasi visual dari filem juga dibantu oleh judul.
Menurut saya, judul dalam filem sungguh bisa menjadi sebuah bingkai yang mengarahkan makna bagi gambar-gambar yang bergerak dalam filem. Apa yang berusaha dikomunikasikan oleh filem nampaknya dapat digiring oleh judul sejak awal. Sejak dimulainya sebuah filem, judul menjadi semacam panduan atau kerangka berpikir bagi penonton dalam mengintepretasi apa yang sedang ia tonton (dan dengarkan). Musik, teknik pengambilan gambar, naskah dan bahkan aktor pun menjadi komponen penyusun skema kebenaran tersebut. Jika disusun dengan baik dan benar, unsur-unsur itu akan mengacu kembali kepada judul sebagai koridor bagi imajinasi penonton ketika menyaksikan film yang telah utuh. Meski demikian, tentu imajinasi penonton tidak akan pernah seutuh film yang sudah jadi tersebut, terutama jika mengacu pada struktur kesadaran menurut Jacques Lacan yang katanya tidak pernah utuh. Sama halnya dengan imajinasi anda ketika membaca tulisan ini yang mungkin tidak akan seutuh sebagaimana imajinasi yang saya maksudkan.
2
Salah satu cuplikan adegan dalam film All That is Somehow Useful, diambil dari situs Ecounters Festival (http://encounters-festival.org.uk/competition-countdown-fragments-recollections/)
Kembali pada perbincangan tentang filem dan judul. Seperti halnya dalam filem karya Pim Zwier yang saya tonton itu. Apa yang saya lihat dalam filem ini ialah potongan-potongan gambar dari peristiwa eksperimen biologi, kegiatan tukang jagal dan hewan-hewan ternak. Gambar-gambar ini sedemikian rupa disusun dan membentuk persepsi di kepala penonton (atau setidaknya di kepala saya) tentang kuda, domba, sapi dan babi yang awalnya hanya sebuah spesies yang disebut “hewan” dan kemudian bergeser menjadi sebuah kategori spesifik bernama “hewan ternak”.
Seiring dengan tayangan yang menyajikan proses penyembelihan, pajangan kepala sapi dan mantel bulu domba, persepsi semakin meruncing kepada  kategori “barang komoditas”. Makhluk-makhluk tersebut kemudian tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang bernilai kehidupan saja tetapi juga sesuatu yang punya nilai guna untuk manusia (yang mana adalah spesias yang dominan secara kuasa di muka bumi ini meskipun bayinya adalah yang satu-satunya masih tak berdaya meski telah berusia 5 tahun jika dibanding spesies lainnya), yang dengan demikian punya nilai jual. Demikianlah yang saya tangkap yang setidaknya berelasi dan bahkan dapat dikonfimasi oleh judul filem yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Segala Sesuatu yang Bagaimanapun Juga Berguna”.
3
Salah satu cuplikan adegan dalam film Dark Matters, diambil dari situs Karel Doing (http://www.doingfilm.nl/films/darkmatter.html)

Pengalaman tentang relasi antara judul dan muatan pesan filem pun saya temukan setelah menonton filem selanjutnya, yaitu Dark Matters. Filem dari Belanda yang rilis pada tahun 2014 karya sutradara Karel Doing ini sejujurnya lebih sulit saya pahami ketimbang filem sebelumnya. Jika karya Pim Zwier setidaknya memperlihatkan bangunan naratif meski tanpa adanya dialog, karya Karel Doing ini nyaris tidak menyediakan bangunan narasi yang mudah diraba. Seolah-olah semuanya dalam filem ini hanya soal bentuk. Saya pun tidak jamin jika intepretasi saya tepat. Tapi setidaknya, judul memberi pertolongan pertama dan sedikit keyakinan bahwa mungkin apa yang saya tangkap tidak meleset jauh dari niatan sutradara.
Sama halnya dengan filem sebelumnya, Dark Matters juga tayang dalam format hitam-putih. Selama durasi pemutaran sepanjang 20 menit, warna dan musik filem ini seolah ingin mengatakan bahwa visual-visual filem ini adalah bagian kelam dari kehidupan seseorang. Potongan foto dan footage kehidupan seseorang ditayangkan dengan cara yang membuat saya merasakan hal yang kelam dari cerita di filem tersebut. Saya sendiri sekarang hanya mengingat samar-samar tentang filem tersebut, jadi persepsi saya pasti kabur-kaburan.  Tapi mungkin persepsi pribadi ini masih bisa dikonfimasi oleh judul yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Hal-Hal yang Gelap”, entah gelap dalam artian periode hidup seseorang atau gelap dalam artian kamar gelap yang menjadi laboratorium pemrosesan seluloid filem.
Olehnya, saya punya asumsi bahwa judul bisa memberikan bingkai yang membantu penonton memaknai filem. Apalagi ketika sebuah filem sepenuhnya membincangkan soal bentuk, maka judul sungguh menjadi penolong pertama. Meski demikian, saya juga beranggapan bahwa tidak semua filem harus dimaknai sebagai suatu bangunan naratif yang mengacu pada judulnya. Namun sama halnya dengan asumsi saya bahwa judul adalah pertolongan pertama pada sinema, asumsi pada kalimat sebelumnya pun perlu diuji kebenarannya. Apakah dalam hal ini judul juga bisa sepenuhnya menjadi konfirmasi sebuah ide dalam karya sinema? Saya sendiri masih mencoba mencari tahunya.
Jakarta, 15 Agustus 2016
Dari rumah Inabah, tempat pengungsian sementara.

Kisah Solidaritas dari Kaki Gunung Kendeng

Empat sosok wanita berpakaian kebaya dan jarik duduk rapi berjajar. Rambut mereka disanggul rapi dengan tusuk konde merah putih, warna merah teracung tegak ke atas. Wajah mereka sayu, barangkali letih oleh perjuangan yang sudah 273 hari ditapaki. Tetapi bagi seorang ibu, adakah letih digubris jika perjuangan berarti kehidupan yang baik bagi anak-anaknya?
Sukinah, Murtini, Giyem dan Ngatemi. Begitulah bagaimana mereka dipanggil. Keempatnya merupakan ibu-ibu petani dari Rembang dan Pati. Mereka melangkah jauh-jauh ke Jakarta hanya untuk satu tujuan pasti, menyelamatkan kendi air Pegunungan Kendeng dari jamahan pabrik Semen. Hari ini di Jawa, tanah sudah kian rusak. Hutan dan sawah bukan lagi bagian dari ekologi yang terpelihara dengan baik terlebih dengan ekspansi industri yang kian kalap merambah nadi-nadi keseimbangan ekologi. Di Jawa Tengah yang pernah tersohor sebagai lumbung beras Nusantara, keadaannya kian beda. Persawahan diganti dengan perumahan. Hutan dan gunung diganti dengan pabrik. Kendi air kita bisa jadi akan segera pecah. Lalu kerontang melanda dan pertanian kian merana.
Barangkali persoalan terkait pendirian pabrik semen di Rembang dan Pati ini sudah tidak lagi asing terdengar.
Sebagian warga menolak pendirian pabrik semen ini karena nantinya dapat merusak mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar. Bukan apa-apa, mayoritas masyarakat sekitar hidup dari pertanian. Terutama masyarakat yang berasal dari suku Samin, mereka hanya bermata pencaharian sebagai petani sebab berdagang merupakan hal yang dilarang dalam adat. Sehingga keberadaan sumber mata air yang sehat dan bersih menjadi sangat penting. Problematika pendirian pabrik semen di Rembang ini semakin kentara ketika rupanya proses amdal berjalan buruk dan tidak sesuai dengan situasi sebenarnya. Sosialisasi amdal yang terjadi hingga kini pun bersifat meminta persetujuan warga dan lebih menekankan soal lapangan kerja baru dan CSR. Padahal sosialisasi amdal mestinya ditujukan untuk memaparkan dampak apa saja yang bisa timbul akibat pendirian pabrik, termasuk dampak perubahan ekologis.
Belum lagi menyangkut kelestarian kawasan karst Indonesia yang semakin rawan akibat didirikannya pabrik semen di sejumlah kawasan Karst seperti di Pati, Sulawesi Selatan, Sumatra di sepanjang Bukit Barisan, Pangkep dan Maros. Semua terancam karena pembangunan pabrik semen yang mensyaratkan kapur dari Karst sebagai bahan bakunya (disampaikan oleh Ibu Nurhayati, Kepala Eksekutif Advokasi Nasional WALHI).
Di Rembang dekat Gunung Kendeng, para petani termasuk para ibu ini telah berkemah selama 273 hari sejak 16 Juni 2014 untuk memblokade jalan masuk bagi peralatan berat yang akan membangun pabrik semen di Rembang. Pegunungan Kendeng sendiri merupakan pegunungan yang membentang di Jawa Tengah dan dikelilingi 5 kabupaten, berisikan tidak sedikit candi dan Mata air abadi. Bagi masyarakat Rembang dan Pati, Gunung Kendeng adalah tempatnya air dan telah menjadi surga bagi orang-orang di desa dan terutama petani. Air tanah adalah bagian dari mereka karena darinyalah banyak makhluk bisa hidup. Sehingga kelestarian harus senantiasa dijaga.
Lewat aksi kemah, blokade hingga nyanyian yang diiringi suara tumbukan lesung, para ibu ini mempertahankan kelestarian ekologi bagi hari ini dan ke depannya. Perjuangan ini bukan tanpa tantangan. Aksi para ibu petani ini kerap dibubarkan oleh para aparat polisi dan TNI, bahkan kadang pembubaran dilakukan secara paksa. Salah seorang ibu bercerita bahwa dirinya pernah dilemapar hingga pingsan oleh aparat dalam rangka pembubaran blokade. Saat aksi damai dalam nyanyian yang diiringi lesung, ibu inipun pernah dipukul oleh aparat. Bupati dan Gubernur setempat sendiri menunjukkan keberpihakan telak pada pihak pabrik Semen. Ini ditunjukkan dari tuntutan-tuntutan warga terkait penarikan izin pendirian pabrik yang tidak digubris. Bahkan tidak jarang para petani ini diperlakukan seperti orang-orang dungu yang tidak tahu birokrasi. Menggelikan ketika seorang birokrat terdidik menanyakan perihal amdal kepada petani. Mereka membaca dan memahami alam lewat kehidupan, bukan lewat lembaran kertas atau lewat lipstik janji politik. Bagi mereka alam dan kehidupan adalah satu, bukannya komoditas yang dijual belikan begitu saja. Ironisnya, salah satu pabrik semen yang hendak mendirikan pabrik di Gunung Kendeng adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Lalu pertanyaannya, dimana janji konstitusi negara untuk melindungi segenap warga negaranya?
Mana janji konstitusi soal perlindungan hak masyarakat adat?
Saya takut jika janji-janji ini sudah dijual pada segelintir investor dan pemilik industri.
Kini, masyarakat Kendeng yang kontra dengan pabrik semen tengah berjuang lewat pengadilan agar izin pendirian pabrik dapat dicabut. Proses pengadilan sudah berlangsung 10 kali. Namun sayangnya, ada kecenderungan hakim yang subyektif dan tidak profesional. Meski demikian masyarakat Kendeng terutama ibu-ibu petani ini masih terus berjuang bagi lewat jalur hukum, konsolidasi maupun aksi damai menolak pendirian pabrik. Mereka masih mengenakan caping sebagai simbol dari pengadilan yang adil.
Tidak ada perjuangan yang sia, bahkan jika negara telah kian absen dari kewajibannya melindungi yang terlemah. Bahkan jika negara sudah lenggang adijaya, adigang, adigung, adiguna.
Cerita lebih lanjut tentang bagaimana pendirian pabrik Semen di Rembang telah mengganggu kemakmuran warga di sana dapat diikuti pada linimasa twitter akun @JmppkRembang & @omahekendeng.
Selain itu, kondisi di Kendeng dapat juga disaksikan melalui sebuah dokumentasi film Samin vs Semen yang dapat diakses melalui https://t.co/IH58PekZbD .
Terima kasih.
** tulisan ini merupakan rangkuman percakapan pada diskuis pembukaan pameran Sketsa Perjuangan Petani Rembang & Pesan Solidaritas bagi Perjuangan Rembang yang diadakan di galeri WALHI pada Selasa, 17 Maret 2015.
ditulis pada 19 Maret 2015.

Cosmic Love

Green blip, light talks
Feelings slip, sleepwalks
Seen…
Just active
Active now
Active ago…
Ionosphera has its way to mess
What’s the mess
Where’s the mess
Reality isn’t that real
Unreality is that real
In the world of Ionosphera…
Conundrum is only for those who see beyond the sphera
‘Cause satisfaction is pseudo
The seen one might be just a salvo
I reiterate
You reiterate
Words of nothing
And what is nothing?
Could be a green blip with no entry
A message of silence and mystery

Resume : The Samin Movement and Millenarism oleh A. Korver

Selama tahun- tahun penjajahan yang dialami oleh Indonesia, terdapat sejumlah gerakan yang melawan penjajahan. Gerakan ini mengambil beraneka ragam bentuk mulai dari aktif hingga pasif, dan tradisional maupun non-tradisional. Salah satu gerakan yang cukup banyak pada era penjajahan ialah gerakan- gerakan milenarisme yang bersumber dari masyarakat tradisional Indonesia. Umumnya gerakan ini muncul akibat adanya tekanan ekonomi dan sosial yang diderita oleh masyarakat miskin. Salah satu gerakan milenarisme yang tumbuh di Indonesia pada era kolonial ialah gerakan Saminisme atau gerakan Sedhulur Sikep.
Menurut A. Pieter. E Korver, gerakan Saminisme yang berawal dari daerah Blora ini merupakan salah satu bentuk gerakan milenarisme yang cenderung pasif. Pada makna aslinya, gerakan milenarisme merupakan gerakan yang muncul dari kepercayaan umat Kristen bahwa Kristus akan kembali lagi ke bumi dan mendirikan kerajaan baru yang ideal untuk memerintah umat manusia selama seribu tahun. Mitos demikian pulalah yang menyebabkan kata ‘milenium’ bermakna seribu tahun. Namun kini istilah milenarisme dimaknai oleh para penstudi sosial sebagai semacam gerakan sosial-keagamaan yang mengharapkan datangnya keselamatan duniawi bagi kelompoknya dalam waktu dekat secara total sebagai titik penghabisan suatu percobaan. Korver menggolongkan gerakan Saminisme sebagai gerakan milenarisme dengan memaparkan adanya indikasi bahwa gerakan Saminisme bertujuan pada terciptanya transformasi radikal terhadap masyarakat. Menurut Korver, gerakan Saminisme mengingkan kembalinya kehidupan masyarakat Jawa kepada apa yang disebut sebagai “Era Keemasan” dimana tidak ada struktur yang mewajibkan pembayaran pajak dan pembatasan penggunaan lahan hutan maupun pertanian. Secara lebih lanjut, Korver memaparkan bahwa adanya signifikansi dikotomi antara pengikut Samin dan bukan pengikut Samin merupakan salah satu ciri yang mengarah pada karakteristik suatu gerakan milenarisme. Dalam hal ini, dikotomi muncul bukan dari linkar dalam pengikut Saminisme namun justru muncul dari lingkar luar pengikut Saminisme. Hal ini terjadi karena pemerintah Belanda yang pada saat itu berkuasa menetapkan Samin sebagai sekumpulan orang tidak patuh yang cenderung berkonotasi negative sehingga masayarkat non-Samin pun cenderung menjaga jarak dengan pengikut Saminisme yang pada akhirnya membuat kelompok pengikut Samin terisolasi.
Gerakan Saminisme muncul pada sekitar tahun 1890 yang diawali dari ajaran seorang penduduk di sebuah desa di Blora, Rembang, Jawa Tengah, yang bernama Samin Surosentiko. Gerakan yang semakin meluas ini merupakan aksi perlawanan secara damai terhadap pemerintah kolonial Belanda. Akibat kian banyaknya pengikut dan dirasa mengancam, maka pada tahun 1907 Samin Surosentiko ditangkan dan diasingkan ke Sumatra. Ia meninggal di pengasingan setelah 7 tahun pengasingan. Sepeninggal Samin Surosentiko, rupanya gerakan Saminisme masih terus bertumbuh dan bahkan mulai menyebar ke daerah sekitar Jawa Tengah dan jawa Timur seperti Pati, Kudus dan Madiun. Korver mengungkapkan bahwa gerakan Saminisme ini muncul akibat berbagai sebab yaitu tekanan ekonomi, sosial dan politik yang dihasilkan dari eksploitasi pemerintah kolonial terhadap masyarakat di pedesaan pada umumnya.
Secara khusus, gerakan Saminisme muncul sebagai bentuk tuntutan pengikut Samin agar akses terhadap lahan hutan dan pertanian bisa dibebaskan dan agar pajak diturunkan atau bahkan ditiadakan. Sedangkan secara sosial, Korver memaparkan bahwa gerakan Saminisme muncul sebagai bentuk respon disintegrasi sosial atas terancamnya nilai- nilai tradisionalisme oleh pemerintahan kolonial Belanda. Sebagaimana diungkapkan Sartono dalam tulisan Korver, gerakan milenarisme di Jawa muncul sebagai dampak disintegrasi sosial terhadap dominasi pemerintah kolonial Belanda. Secara lebih lanjut Korver memaparkan bahwa pengikut Saminisme bingung dan lelah akan reformasi yang secara terus menerus dijejalkan pemerintah kolonial ke desa- desa yang mereka tinggali dan membuat mereka semakin tidak terikat terhadap tatanan nilai desa yang lama.
Pada umumnya, pengikut Saminisme mengalami pengucilan dari sesama penduduk desa yang tidak menganut ajaran Saminisme. Hal ini lama kelamaan menyebabkan isolasi terhadap mereka yang mengikuti gerakan Saminisme. Sebagai dampaknya, maka kemudian kelompok ini kehilangan kekuatan politik sama sekali untuk mengungkapkan aspirasinya terkait reformasi yang terjadi di Nusantara. Hal ini berbeda jauh dengan gerakan milenarisme ala Sarekat Islam yang dimotori oleh HOS Cokroaminoto yang berhasil mendapat dukungan di level lokal dan nasional.
Sebagai kesimpulan, tulisan Korver yang dimuat pada tahun 1976 ini ingin memandang gerakan Saminisme tidak sekedar sebagai gerakan yang dilakukan masyrakat pedesaan semata namun lebih sebagai suatu gerakan milenarisme di Jawa. Tulisan ini merupakan salah satu tulisan yang dapat dirujuk guna membahas gerakan Samin. Namun tinjauan lebih jauh perlu dilakukan sebab terdapat sejumlah riset yang muncul lebih awal terkait gerakan Samin.
Sumber
Korver, A. Pieter E. 1976. “The Samin movement and millenarism.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 132 (1976), no: 2/3, KITLV, Leiden, 249-266.
(http://booksandjournals.brillonline.com/docserver/22134379/132/2/22134379_132_02_s04_text. )